Ini Hanya Suatu Cerpen

Hikmah dibalik musibah 

( dikutip seutuhnya cerpen Pemula )
Desa yang hijau itu menjadi indah dan terlalu indah bagi keluarga sederhana sepasang suami isteri beranak tiga. Hidup rukun dan bersahabat dengan tetangga dan masyarakat sekitarnya. Sembahyang berjamah gema nasehat waktu subuh dan habis magrib mendorong semangat kegotong royongan dan kerukunan. Warganya tak ingin berlama lama meninggalkan desanya yang sejuk dan tentram. Tak mau terusik dengan kegaduhan yang tak jelas. Alhamdulillah

Pak Cokro tinggal di desa . Desa ini tergolong maju karena punya prasana lengkap  yang tertata walau secara sederhana  dan walaupun agak jauh dari hiruk pikuk kota.  Punya anak tiga orang, sekeluarga terbiasa hidup sederhana dan taat beribadah. Istrinya menjadi guru SD di desa itu. Pak Cokro pegawai kelurahan tapi rajin berkebun dan bersawah. Sekolah dari mulai PAUD sampai SMA SMK ada didesa itu. Putra putrinya  bersekolah didesa itu juga. Yang paling kecil laki-laki Nanang duduk di SD sudah kelas lima sementara kakak perempuan Nina di  SMP sudah kelas tiga sedangkakak yang tertua Chandra memilih SMA kelas dua. Ketiga anak ini kompak dan rukun dan sangat takzim pada kedua orang tuanya. Tiba-tiba kedamaian keluarga ini terusik dengan dering telpon...... “Hallo”, Bu cokro yang menerima telpon. “ Waalaikum salam, apakabar dik?”... “ Apa...?”
Seketika wajah Bu cokro berubah pucat

Serempak ayah anak bertanya “ ada apa ibu?”, tapi bu Cokro diam saja, seolah tak mendengar.
“ Ya sudah, nanti kubicarakan sama Masmu!”, Ya nanti aku yang  ngebel , ya, sabar!”, bu Cokro menyudahi  telponnya. “ Ika Mas!”. “ Memang Ika kenapa?” pak Cokro bertanya heran. “ Dia mau kesini!”. “ Bagus dong!”, pak cokro simple saja menjawab. “ Bukan begitu, katanya dia mau kesini tapi mau numpang disini, kenapa, ceritanya panjang, katanya, “, bu Cokro menegaskan dengan gelisah.
Pak Cokro dengan sabar bicara, walaupun kelihatan agak bingung, “ ya sudah , suruh kesini saja dulu untuk menyawaroh”. “ Ya gak gitu Mas, dia akan orang biasa senang, kamar kita pas-pasan, mau ditempatkan dimana?”, bu cokro bicara seperti tanpa control. “ Dik!, telpon saja, suruh kesini dulu, kita musyawarohkan. Biar tau letak persoalannya. Dan mudah-mudahan kita bisa memberikan jalan keluar yang terbaik”. “ Ya deh Mas, saya bel suruh kesini dulu aja untuk rembugan, mudah-mudahan dia mau mengerti”

Ketika adhan subuh saling bersahutan diantara masjid, mengagetkan penduduknya yang kesiangan tidak solat malam,  terdengar suara pintu pagar rumah pak Cokro di ketok ketok. Sementara pak Cokro sekeluarga yang sejak jam tiga malam sudah berkomunikasi dengan Allah , agak tak percaya juga sesubuh buta begini ada orang yang mengetok pintu pagar rumahnya.  Padahal segera mau solat subuh ke Mesjid. “ Chandra , nak tolong kau lihat siapa yang datang. “
“ Oh tante Ika, maaf” sambil Chandra mempersilakan tantenya masuk. “ Tante sendiri, tidak sama Om?”, sambil berjalan Chandra ber basa-basi. “ Ommu tidak ikut, tante sendiri” tante Ika menegaskan. “ Ayah, Ibu… yang datang tante Ika!”, “ silakan tante, duduk dulu, saya mau bersiap ke Mesjid”. “Iyo wis nuwun , nak”, Chandra buru-buru ke kamar mandi untuk ke masjid khawatir ketinggalan berjamaah.

“Kamu gak solat dulu Ik”, bu Cokro  menyalami adiknya. Sedang tidak mbak”. “ O, Ya sudah , ini tak buat teh panas , diminum. Tunggu ya, aku sama  anak-anak ke masjid sebentar”. “ Ya mbak, aku tunggu disini.” Nanang dan Nina dibelakang Ibunya ikut salam ke tantenya, sambil pamit juga untuk solat.
 Mesjidnya tempat pak Cokro berjamaah ada disebelah rumahnya tidak jauh tapi cukup luas dan apik, model desa. Embun pagi masih menyelimuti desa itu, tapi pendudknya sudah terbiasa dalam kedamaian anugerah Yang Maha Kuasa.
Sesampai dirumah tante Ika ternyata tertidur di sofa, bahkan tehnya masih utuh. Terlihat jelas seperti orang yang kelelahan baik pisik maupun batin. Pak Cokro sekeluarga seperti biasanya sibuk dengan kebiasaan masing-masing. Tapi kali ini anak-anaknya ikut membantu ibunya mempersiapkan dalam rangka menghormati tamu. Sampai-sampai ada “suara debruk, prang”  dan “adiiiiik”, Nina teriak, tak sengaja menabrak adiknya karena buru-buru membantu ibunya. Perkakas yang dibawanya untuk  dicuci, pun ikut terlempar, tapi tak ada yang pecah “maafkan kakak”.. “ Oh tidak apa-apa kak Nina, Nanang yang salah berdiri dijalan, maaf kak”. Nina membantu adiknya berdiri, sambil merangkul minta maaf, dengan kasih sayang . Padahal Nanang terguling dilantai sedang membantu ibu ngepel lantai. Begitulah pak Cokro mendidik anak anaknya supaya rukun, sabar keporo-ngalah(jawa). Tidak saling menyalahkan.

“Mas, sudah dua tahun adiknya( maksudnya suami Ika) di tahan. Anak-anak sudah setahun ini tidak sekolah karena malu. Aku juga sudah berhenti dari kantorku. Gak kuat Mas dibicarakan orang. Rumah disita. Aku ngontrak dan hidup dengan sisa uang pribadiku. Aku sengaja tidak memberitahu takut kalian susah dan malu. Bapaknya anak anak masih beberapa bulan lagi  diperkirakan baru bebas. Umpama bebas belum ada gambaran mau cari nafkah apa.Aku sudah tak tahu harus berbuat apa, uang kontrakkan sudah menunggak. Anak-anak terlihat minder, tidak mau sekolah dimana-mana.Suka tidak suka  aku mau ikut numpang disini dengan anak-anak sambil menunggu bapak  anak-anak bebas, baru dipikir lagi mau buat apa.”
Ika ngomong terus, tanpa minta tanggapan pak Cokro apapun. Semuanya pada menekuk kepalanya, apa  terharu, apa susah, tak jelas.
Tiba-tiba anak-anak pak Cokro muncul membawa sarapan pagi, dan sambil minta ijin berangkat sekolah. Ika spontan matanya berkaca-kaca, “ Nak , tante sudah mulai menggangu kalian, maafkan!”. “ Ga apa-apa tante sudah biasa, sekalian minta ijin mau berangkat dulu kesekolah”. “ Iya nak” . “ Kalian sudah pada sarapan?”. “ Sudah Ibu”, Chandra dan adik-adiknya berpamitan salam segera berangkat kesekolah.” Hati-hati nak, doa, ya !”, pak Cokro mengingatkan.”Lha kalian ?”. “Kan ini Sabtu, kosong, tenanglah, aman ”, Cokro dan istrinya hampir bareng. Ika nangis , “aku malu mbak, tapi aku tak tau harus berbuat apa lagi”

Hari itu Ika langsung pulang. Minggunya dia dan anak-anaknya sudah berada di rumah pak Cokro. Dalam keadaan kebingungan pak Cokro mempersilakan duduk istirahat dulu. Sekeluarga tidak menyangka kalau Ika akan dating secepat itu. Padahal mereka sekeluarga belum  musyawaroh dengan serius, karena masih menimbang nimbang jalan yang terbaik. Kamar Cuma ada 3, kamar utama untuk pak cokro, kamar Nanang dengan Candara dan kamar Nina. Ada gudang lebih kecil.
Pak Cokro mengumpulkan anak-anaknya. “Bagaimana nak, ini sangat darurat. Terpaksa sempit-sempitan.” “ Biar ayah tidak apa apa , kasihan, orang lagi kesusahan”, tak disangka anaknya Chandra bisa luhur begitu perkataannya.
“Kalau mau, Chandra, Nanang dan Andri sekamar dengan kami. Kamar Nina bersama Indah dan Tante Ika. Asal mereka mau menerima kita sobar dan rido ayah, ya kan dik” kata Chandra ke ayahnya sambil minta persetujuan adik-adiknya. Adik adiknya mengangguk tanda persetujuan.

Hari itu juga semua mengatur kamar masing-masing. Tidak ada pilihan. Walau masing-masing hati terlihat galau, rasa penyesalan, kesibukan menata kamar menyita hati dan pikiran mereka untuk focus. Tapi untungnya Pak Cokro masih ada kasur serep yang sudah tua tapi lumayan masih bisa dipakai. Masing Nanang dan Nina mengklaim,” untuk saya nanti kalu hawanya panas melantai”, katanya tapi diucapkan dengan gembira karena memaklumi keadaannya.
Malamnya Pak Cokro mengumpulkan anggota keluarga dan ponakan-ponakannya, beliau nasehat. Agar sobar dengan cobaan. “Mungkin Allah sudah mengatur jalannya begini. Utamanya carilah hikmahnya dari cobaan Allah. Mungkin kalian disuruh lebih mendekat lagi pada Allah.” Katanya. Pak Cokro memulai nasehatnya. Semua tertunduk takzim mengikuti petuah yang dituakan.  "Syarat yang harus kalian lakukan adalah agar kita belajar hidup rukun.Menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan masyarakat disini. Meningkatkan kepahaman agama. Tanpa kepahaman agama yang kuat, akan susah hidup rukun, apalagi bersyukur dengan keadaan tempat tinggal yang bersempit-sempitan seperti ini dan makan alakadarnya". Semua diam takzim. Ika dan anak-anaknya meneteskan air mata. Nina juga jadi ikut, sambil merangkul Indah. Chandra memegang tangan Andri kuat-kuat seperti seorang motivator. Nanang sandaran ke ibunya.Semuanya jadi larut...........
Hari itu keluarga Ika menghadapi hidup baru, dunia baru, suasana baru. Tapi mereka mungkin sudah komitmen untuk merubah diri. Mengikuti kegiatan –kegiatan putra-putri pak Cokro. Malamnya mencari kepahaman agama, mengaji alquran dengan maknanya dan mendengar nasehat agama di masjid walau dari magrib sampai Isya. Pulang mereka mempersiapkan pelajarannya. Kini mereka pun harus bersekolah. Tapi airmuka mereka ada segores kebahagiaan  yang aneh yang belum pernah dirasakan selama hidupnya.TAMAT

ooOoo 
Manfaat dan pesan-pesan apa yang terkandung dalam cerita ini. Bahwa orang berjalan diatas qodar atau takdirnya masing-masing. Ada ditakdirkan jadi orang baik, ada yang ditakdirkan jadi orang jahat sesaat. Kemudian keduanya apakah dtakdirkan menjadi orang beriman atau tidak. Tak seorang manusiapun mengetahui takdirnya masing masing. Tapi Rasullullah mengingatkan bahwa Allah membagi akhlak kamu sekalian sebagaimana Allah membagi rejeki. (Ya , ada yang banyak, ada yang sedikit, ada yang sedengan. Kalau banyak disebutlah dia orang kaya.). Allah memberi dunia kepada manusia yang Allah cintai, dan kepada manusia yang Allah tidak cintai.( Yang  iman dan yang tidak iman , sama sama dikasih, kalau urusan dunia mah ). Tapi Allah hanya memberi kepahaman agama kepada orang yang Allah cintai, yang membawanya ke surga.
Kemudian yang didapat dari cerita ini masalah kerukunan. Kerukunan dalam masyarakat, kerukunan dalam keluarga. Tanpa kerukunan tidak akan didapat suasana yang sejuk dalam rumah tangga, tidak akan produktif. Sebagian unsur kerukunan dalam cerita ini terwujud, membiasakan berbahasa yang baik, Sabar keporo ngalah(jw) Saling memperhatikan saling menghargai. Jadi kalau anda melihat tontonan dalam masyarakat kita akhir-akhir ini, baik kelas atas apa lagi kelas bawah, saling tidak rukun diwujudkan , saling menghujat, saling menghina; ya karena unsur kerukunan ditaruhkan dibelakang. Bahkan kalau boleh dibilang agamanya ditinggal dibelakang, tidak menjadi penerang ,obor, dalam kehidupannya. Maka beruntunglah keluarga yang masih mengedepankan agamanya, kerukunannya, akhlakul karimah nya. Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts