Desa yang hijau itu menjadi indah dan terlalu indah bagi keluarga
sederhana sepasang suami isteri beranak tiga. Hidup rukun dan bersahabat
dengan tetangga dan masyarakat sekitarnya. Sembahyang berjamah gema
nasehat waktu subuh dan habis magrib mendorong semangat kegotong
royongan dan kerukunan. Warganya tak ingin berlama lama meninggalkan
desanya yang sejuk dan tentram. Tak mau terusik dengan kegaduhan yang
tak jelas. Alhamdulillah
Pak Cokro tinggal di desa . Desa ini tergolong maju karena punya prasana
lengkap yang tertata walau secara sederhana dan walaupun agak jauh
dari hiruk pikuk kota. Punya anak tiga orang, sekeluarga terbiasa hidup
sederhana dan taat beribadah. Istrinya menjadi guru SD di desa itu. Pak
Cokro pegawai kelurahan tapi rajin berkebun dan bersawah. Sekolah dari
mulai PAUD sampai SMA SMK ada didesa itu. Putra putrinya bersekolah
didesa itu juga. Yang paling kecil laki-laki Nanang duduk di SD sudah
kelas lima sementara kakak perempuan Nina di SMP sudah kelas tiga
sedangkakak yang tertua Chandra memilih SMA kelas dua. Ketiga anak ini
kompak dan rukun dan sangat takzim pada kedua orang tuanya. Tiba-tiba
kedamaian keluarga ini terusik dengan dering telpon...... “Hallo”, Bu
cokro yang menerima telpon. “ Waalaikum salam, apakabar dik?”... “
Apa...?”
Seketika wajah Bu cokro berubah pucat
Serempak ayah anak bertanya “ ada apa ibu?”, tapi bu Cokro diam saja, seolah tak mendengar.
“ Ya sudah, nanti kubicarakan sama Masmu!”, Ya nanti aku yang ngebel ,
ya, sabar!”, bu Cokro menyudahi telponnya. “ Ika Mas!”. “ Memang Ika
kenapa?” pak Cokro bertanya heran. “ Dia mau kesini!”. “ Bagus dong!”,
pak cokro simple saja menjawab. “ Bukan begitu, katanya dia mau kesini
tapi mau numpang disini, kenapa, ceritanya panjang, katanya, “, bu Cokro
menegaskan dengan gelisah.
Pak Cokro dengan sabar bicara, walaupun kelihatan agak bingung, “ ya
sudah , suruh kesini saja dulu untuk menyawaroh”. “ Ya gak gitu Mas, dia
akan orang biasa senang, kamar kita pas-pasan, mau ditempatkan
dimana?”, bu cokro bicara seperti tanpa control. “ Dik!, telpon saja,
suruh kesini dulu, kita musyawarohkan. Biar tau letak persoalannya. Dan
mudah-mudahan kita bisa memberikan jalan keluar yang terbaik”. “ Ya deh
Mas, saya bel suruh kesini dulu aja untuk rembugan, mudah-mudahan dia
mau mengerti”
Ketika adhan subuh saling bersahutan diantara masjid, mengagetkan
penduduknya yang kesiangan tidak solat malam, terdengar suara pintu
pagar rumah pak Cokro di ketok ketok. Sementara pak Cokro sekeluarga
yang sejak jam tiga malam sudah berkomunikasi dengan Allah , agak tak
percaya juga sesubuh buta begini ada orang yang mengetok pintu pagar
rumahnya. Padahal segera mau solat subuh ke Mesjid. “ Chandra , nak
tolong kau lihat siapa yang datang. “
“ Oh tante Ika, maaf” sambil Chandra mempersilakan tantenya masuk. “
Tante sendiri, tidak sama Om?”, sambil berjalan Chandra ber basa-basi. “
Ommu tidak ikut, tante sendiri” tante Ika menegaskan. “ Ayah, Ibu… yang
datang tante Ika!”, “ silakan tante, duduk dulu, saya mau bersiap ke
Mesjid”. “Iyo wis nuwun , nak”, Chandra buru-buru ke kamar mandi untuk
ke masjid khawatir ketinggalan berjamaah.
“Kamu gak solat dulu Ik”, bu Cokro menyalami adiknya. Sedang tidak
mbak”. “ O, Ya sudah , ini tak buat teh panas , diminum. Tunggu ya, aku
sama anak-anak ke masjid sebentar”. “ Ya mbak, aku tunggu disini.”
Nanang dan Nina dibelakang Ibunya ikut salam ke tantenya, sambil pamit
juga untuk solat.
Mesjidnya tempat pak Cokro berjamaah ada disebelah rumahnya tidak jauh
tapi cukup luas dan apik, model desa. Embun pagi masih menyelimuti desa
itu, tapi pendudknya sudah terbiasa dalam kedamaian anugerah Yang Maha
Kuasa.
Sesampai dirumah tante Ika ternyata tertidur di sofa, bahkan tehnya
masih utuh. Terlihat jelas seperti orang yang kelelahan baik pisik
maupun batin. Pak Cokro sekeluarga seperti biasanya sibuk dengan
kebiasaan masing-masing. Tapi kali ini anak-anaknya ikut membantu ibunya
mempersiapkan dalam rangka menghormati tamu. Sampai-sampai ada “suara
debruk, prang” dan “adiiiiik”, Nina teriak, tak sengaja menabrak
adiknya karena buru-buru membantu ibunya. Perkakas yang dibawanya untuk
dicuci, pun ikut terlempar, tapi tak ada yang pecah “maafkan kakak”.. “
Oh tidak apa-apa kak Nina, Nanang yang salah berdiri dijalan, maaf
kak”. Nina membantu adiknya berdiri, sambil merangkul minta maaf, dengan
kasih sayang . Padahal Nanang terguling dilantai sedang membantu ibu
ngepel lantai. Begitulah pak Cokro mendidik anak anaknya supaya rukun,
sabar keporo-ngalah(jawa). Tidak saling menyalahkan.
“Mas, sudah dua tahun adiknya( maksudnya suami Ika) di tahan. Anak-anak
sudah setahun ini tidak sekolah karena malu. Aku juga sudah berhenti
dari kantorku. Gak kuat Mas dibicarakan orang. Rumah disita. Aku
ngontrak dan hidup dengan sisa uang pribadiku. Aku sengaja tidak
memberitahu takut kalian susah dan malu. Bapaknya anak anak masih
beberapa bulan lagi diperkirakan baru bebas. Umpama bebas belum ada
gambaran mau cari nafkah apa.Aku sudah tak tahu harus berbuat apa, uang
kontrakkan sudah menunggak. Anak-anak terlihat minder, tidak mau sekolah
dimana-mana.Suka tidak suka aku mau ikut numpang disini dengan
anak-anak sambil menunggu bapak anak-anak bebas, baru dipikir lagi mau
buat apa.”
Ika ngomong terus, tanpa minta tanggapan pak Cokro apapun. Semuanya pada menekuk kepalanya, apa terharu, apa susah, tak jelas.
Tiba-tiba anak-anak pak Cokro muncul membawa sarapan pagi, dan sambil
minta ijin berangkat sekolah. Ika spontan matanya berkaca-kaca, “ Nak ,
tante sudah mulai menggangu kalian, maafkan!”. “ Ga apa-apa tante sudah
biasa, sekalian minta ijin mau berangkat dulu kesekolah”. “ Iya nak” . “
Kalian sudah pada sarapan?”. “ Sudah Ibu”, Chandra dan adik-adiknya
berpamitan salam segera berangkat kesekolah.” Hati-hati nak, doa, ya !”,
pak Cokro mengingatkan.”Lha kalian ?”. “Kan ini Sabtu, kosong,
tenanglah, aman ”, Cokro dan istrinya hampir bareng. Ika nangis , “aku
malu mbak, tapi aku tak tau harus berbuat apa lagi”
Hari itu Ika langsung pulang. Minggunya dia dan anak-anaknya sudah
berada di rumah pak Cokro. Dalam keadaan kebingungan pak Cokro
mempersilakan duduk istirahat dulu. Sekeluarga tidak menyangka kalau Ika
akan dating secepat itu. Padahal mereka sekeluarga belum musyawaroh
dengan serius, karena masih menimbang nimbang jalan yang terbaik. Kamar
Cuma ada 3, kamar utama untuk pak cokro, kamar Nanang dengan Candara dan
kamar Nina. Ada gudang lebih kecil.
Pak Cokro mengumpulkan anak-anaknya. “Bagaimana nak, ini sangat darurat.
Terpaksa sempit-sempitan.” “ Biar ayah tidak apa apa , kasihan, orang
lagi kesusahan”, tak disangka anaknya Chandra bisa luhur begitu
perkataannya.
“Kalau mau, Chandra, Nanang dan Andri sekamar dengan kami. Kamar Nina
bersama Indah dan Tante Ika. Asal mereka mau menerima kita sobar dan
rido ayah, ya kan dik” kata Chandra ke ayahnya sambil minta persetujuan
adik-adiknya. Adik adiknya mengangguk tanda persetujuan.
Hari itu juga semua mengatur kamar masing-masing. Tidak ada pilihan.
Walau masing-masing hati terlihat galau, rasa penyesalan, kesibukan
menata kamar menyita hati dan pikiran mereka untuk focus. Tapi untungnya
Pak Cokro masih ada kasur serep yang sudah tua tapi lumayan masih bisa
dipakai. Masing Nanang dan Nina mengklaim,” untuk saya nanti kalu
hawanya panas melantai”, katanya tapi diucapkan dengan gembira karena
memaklumi keadaannya.
Malamnya Pak Cokro mengumpulkan anggota keluarga dan ponakan-ponakannya,
beliau nasehat. Agar sobar dengan cobaan. “Mungkin Allah sudah mengatur
jalannya begini. Utamanya carilah hikmahnya dari cobaan Allah. Mungkin
kalian disuruh lebih mendekat lagi pada Allah.” Katanya. Pak Cokro
memulai nasehatnya. Semua tertunduk takzim mengikuti petuah yang
dituakan. "Syarat yang harus kalian lakukan adalah agar kita belajar
hidup rukun.Menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan masyarakat
disini. Meningkatkan kepahaman agama. Tanpa kepahaman agama yang kuat,
akan susah hidup rukun, apalagi bersyukur dengan keadaan tempat tinggal
yang bersempit-sempitan seperti ini dan makan alakadarnya". Semua diam
takzim. Ika dan anak-anaknya meneteskan air mata. Nina juga jadi ikut,
sambil merangkul Indah. Chandra memegang tangan Andri kuat-kuat seperti
seorang motivator. Nanang sandaran ke ibunya.Semuanya jadi
larut...........
Hari itu keluarga Ika menghadapi hidup baru, dunia baru, suasana baru.
Tapi mereka mungkin sudah komitmen untuk merubah diri. Mengikuti
kegiatan –kegiatan putra-putri pak Cokro. Malamnya mencari kepahaman
agama, mengaji alquran dengan maknanya dan mendengar nasehat agama di
masjid walau dari magrib sampai Isya. Pulang mereka mempersiapkan
pelajarannya. Kini mereka pun harus bersekolah. Tapi airmuka mereka ada
segores kebahagiaan yang aneh yang belum pernah dirasakan selama
hidupnya.TAMAT
ooOoo
Manfaat dan pesan-pesan apa yang terkandung dalam cerita ini. Bahwa
orang berjalan diatas qodar atau takdirnya masing-masing. Ada
ditakdirkan jadi orang baik, ada yang ditakdirkan jadi orang jahat
sesaat. Kemudian keduanya apakah dtakdirkan menjadi orang beriman atau
tidak. Tak seorang manusiapun mengetahui takdirnya masing masing. Tapi
Rasullullah mengingatkan bahwa Allah membagi akhlak kamu sekalian
sebagaimana Allah membagi rejeki. (Ya , ada yang banyak, ada yang
sedikit, ada yang sedengan. Kalau banyak disebutlah dia orang kaya.).
Allah memberi dunia kepada manusia yang Allah cintai, dan kepada manusia
yang Allah tidak cintai.( Yang iman dan yang tidak iman , sama sama
dikasih, kalau urusan dunia mah ). Tapi Allah hanya memberi kepahaman
agama kepada orang yang Allah cintai, yang membawanya ke surga.
Kemudian
yang didapat dari cerita ini masalah kerukunan. Kerukunan dalam
masyarakat, kerukunan dalam keluarga. Tanpa kerukunan tidak akan didapat
suasana yang sejuk dalam rumah tangga, tidak akan produktif. Sebagian
unsur kerukunan dalam cerita ini terwujud, membiasakan berbahasa yang
baik, Sabar keporo ngalah(jw) Saling memperhatikan saling menghargai.
Jadi kalau anda melihat tontonan dalam masyarakat kita akhir-akhir ini,
baik kelas atas apa lagi kelas bawah, saling tidak rukun diwujudkan ,
saling menghujat, saling menghina; ya karena unsur kerukunan ditaruhkan
dibelakang. Bahkan kalau boleh dibilang agamanya ditinggal dibelakang,
tidak menjadi penerang ,obor, dalam kehidupannya. Maka beruntunglah
keluarga yang masih mengedepankan agamanya, kerukunannya, akhlakul
karimah nya. Alhamdulillah.